Di tahun 2018 ini, saya merasa sangat bersyukur karena bisa mendapat banyak pengalaman baru lagi. Kali ini bukan tentang startup aja, tapi lebih kepada komunitas. Tahun ini, saya banyak mendapatkan kesempatan untuk berkontribusi di berbagai komunitas digital dan IT, khususnya di bidang startup.

Kalau dulu saya lebih sering mengisi kultweet atau sharing tentang pengalaman di dunia kepenulisan, sekarang saya lebih sering diminta menjadi speaker tentang dunia startup, bisnis, dan personal branding. Di awal tahun, saya banyak mendapatkan kesempatan untuk sekedar sharing tentang startup, khususnya tentang Jobhun. Mulai dari komunitas-komunitas, sebut saja AndroidDev Surabaya, Telkomsel, Facebook Developer Circles Surabaya, hingga sekumpulan komunitas digital di Satu Atap Coworking Space. Ini nih beberapa acaranya:

13

11

16

23

27

15

2 3 4

Kalau ngomongin jadi speaker, beberapa kali saya sharing di depan teman-teman di komunitas atau sesama mahasiswa, saya ngerasa enjoy banget di situ. Tapi saat jadi speaker di acara Telkomsel, saya menemukan pengalaman baru. Dimana audiens yang saya hadapi ialah anak SMK. Hmm, bisa dibilang anak-anak SMK yang nggak terlalu tertarik dengan topik yang saya bicarakan. Karena sebelumnya saya sempat menjadi speaker juga di SMK, tapi anak-anaknya lebih berantusias. Ternyata berbicara di depan anak yang lebih kecil, atau bisa dibilang “Masih bingung menentukan arah hidup” itu lebih sulit lho! Kalau anak mahasiswa yang sudah lebih terarah sih biasanya lebih bersemangat kalau diajak sharing. Seengaknya mereka nggak akan ngobrol sendiri saat kita lagi ngomong di depan.

Menariknya, sharing-sharing tersebut berujung pada gabungnya saya di beberapa komunitas digital tersebut. Sekarang channel saya malah banyak orang IT, ya bisa dibilang teman-teman saya sekarang banyak dari sana jika dibandingkan dengan anak-anak yang berlatarbelakang jurusan Ilmu Komunikasi seperti saya. Jadi intinya saya berada di tengah orang-orang yang berbeda latar belakang dengan saya. Saya sempat berpikir, “Saya ini siapa?”, “Saya nggak bisa coding”, atau “Saya nggak bisa apa-apa di bidang ini!”. Tapi ternyata saya salah. Lama kelamaan saya pun merasakan, saya ternyata memang dibutuhkan di bidang ini, namun tetap dengan talenta yang saya miliki, yaitu public speaking, public relation, dan menulis tentunya. Terus saya ngapain di sana? Tentu saja jadi creator dan penyambung lidah, mulai dari membuat konsep acara, jadi public relation, mencari media partner, cari partner dan sponsor ke sana sini, menjadi MC dan moderator, sampai maju di barisan paling depan sebagai leader. Di sini lah saya merasa beruntung menjadi anak komunikasi yang lihay dengan kemampuan-kemampuan asyik ini.

1

Ya, akhirnya saya menerima tawaran dari om Bambang, selaku lead dari Facebook Developer Circles Surabaya untuk menjadi salah satu squad alias pengurus. Saya kenal om Bambang karena awal tahun lalu pernah diundang jadi speaker di salah satu acara Facebook Developer Circles Surabaya. Dan kabar baiknya, saya diangkat menjadi co-lead juga, yang artinya saya bakal dapat banyak kesempatan dan peluang menarik lagi. Menjadi squad aja saya sudah mendapatkan banyak kesempatan menarik, mulai dari ketemu orang-orang keren di bidang IT, belajar otodidak jadi MC, dapat banyak friend request di Facebook haha, dan pastinya semakin dikenal di kumpulan orang IT se-Surabaya. Bisa bayangin kalau jadi co-lead kan? Saya sih berharap bisa ketemu banyak orang keren lainnya di seluruh Indonesia, melalui komunitas ini. Dan tentunya berharap bisa sering-sering ke Singapore karena biasanya akan ada meeting rutinnya para lead Facebook Developer Circles se-APAC. Dan mimpi terbesarnya lagi sih bisa ikutan gelaran F8 dari Facebook setiap tahunnya yang biasanya diadain di San Jose, US. Jadi, semoga saja saya bisa banyak berkontribusi di komunitas yang satu ini.

Nah, itu tadi kisah saya bergabung di Facebook Developer Circles Surabaya di awal tahun ini. Lalu kisah selanjutnya, yang termasuk sebagai salah satu dream yang terwujud ialah menjadi leader dari Tech In Asia City Chapter Surabaya. Memang posisi ini sudah saya inginkan sejak lama. Siapa yang nggak pengen? Di kalangan startup, tentu aja nama Tech In Asia sudah sangat terkenal. Pertama, saya belum menemukan media sekeren Tech In Asia yang membahas startup secara detail. Saya suka banget konsep media ini, cara branding-nya, sampai cara mereka menggaet pembaca dan komunitas. So cool! Saya pun memberanikan diri untuk mengajukan diri sebagai leader. Saya tipe yang suka jemput bola juga, daripada menunggu bola itu datang hahaha. Tapi saya lebih percaya diri karena komunitas ini membahas tentang bisnis pada sebuah startup, bukan masalah teknis. Setelah melewati beberapa kali interview via video call, akhirnya saya resmi menjadi leader dari Tech In Asia City Chapter Surabaya. Very happy rasanya, karena saya bisa semakin memperluas jaringan pertemanan di dunia startup ini.

Dan yang terakhir, pada Mei lalu saya memutuskan resign dari kantor lama saya. Alasan pertama sebenarnya sih karena pengen fokus di bisnis saya. Jadi rencana awal memang mau fokus ngurus Jobhun dan Passion Project Lab. Tapi ternyata oh ternyata, saya malah dapat peluang kerja bagus banget di DILo Surabaya sebagai public relation. DILo Surabaya ini semacam coworking space buatan Telkom Indonesia dan MIKTI. Sebelumnya, Jobhun memang sudah pernah buat event di DILo Surabaya. Yang akhirnya membuat saya kenal dengan manager-nya, yang juga anak-anak komunitas IT di Surabaya juga. Awalnya agak berat ninggalin kantor lama yang sudah saya ngasih saya kenyamanan selama 3 tahun, mulai dari belum kuliah, belum punya bisnis, project tulisan belum banyak, pokoknya kantor lama bener-bener membekas di hati saya. Tapi saya yakin sih kalau keputusan saya ini benar. Dan ternyata memang benar. DILo Surabaya menjadi tempat terbaik bagi saya saat ini. Di sini, saya punya kebebasan waktu, bisa pakai tempat untuk startup saya (ya namanya juga coworking space), bisa bawa bisnis saya supaya ikutan program Indigo punya Telkom, gaji lebih dari cukup, uang transport ada, BPJS ada, sampai uang lembur pun ada. Terberkati sekali rasanya. Tugas saya pun nggak jauh-jauh amat dengan komunitas IT yang orang-orangnya sudah saya kenal juga sebelum masuk ke DILo ini. Tentunya semua tugas yang ada di DILo ini pun masih terkait dengan dunia startup digital. Jobhun pun saya libatkan jadi satu. Jadi semuanya saling berkaitan. Beruntung banget kan saya?

Itu beberapa kisah saya di tahun ini yang banyak memberikan pengalaman baru untuk saya. Bisa dibilang, sekarang saya menjadi anak komunikasi yang nyasar di tengah-tengah anak IT hahaha. Tapi ternyata saya juga cinta kok sama dunia startup digital dan IT. Tapi saya nggak meninggalkan kekhasan saya sebagai anak komunikasi, seperti doyan nulis, doyan motret, doyan nonton film lalu ngereview, tetap jadi pecandu majalah, dll. Jadi di tengah mereka saya tetap jadi diri sendiri sesuai dengan keahlian yang saya miliki. Karena anak IT pun butuh anak komunikasi lho, cieeee~ Semoga di kuartal-kuartal akhir 2018 akan ada cerita seru lagi ya.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *