Mungkin selama ini saya nggak pernah bercerita tentang kisah hidup saya secara detail di blog ini. Ya, memang. Karena blog ini saya fungsikan untuk portfolio saja, bukan kisah hidup saya. Saya lebih prefer mengisahkan kisah hidup saya di media lain. Salah satunya melalui rubrik “Bernas Inspirator” di Koran Bernas ini. Jadi beberapa waktu lalu, saya dihubungi oleh wartawan Bernas, yaitu mas Paulus Yesaya Jati. Beliau meminta waktu luang saya untuk membagikan kisah hidup saya melalui rubrik ini. Tentunya kisah yang memotivasi orang lain ya. Selamat membaca!

Bernas.id – Cynthia Cecilia saat ini sedang menekuni profesi penulis dan startup founder Jobhun dan founder Project Lab. Di sela-sela kesibukannya menulis, ia mengurus startup buatannya, sehingga bisa dikatakan bahwa profesi founder pada startup sebagai sebuah pekerjaan. Tak dipungkiri hobi dan pekerjaannya ini dipengaruhi lingkungan yang banyak didominasi pebisnis, kemudian ayahnya yang juga dekat dengan dunia tulis-menulis di media.

Ia percaya bahwa bergaul di lingkungan positif bisa membuat seseorang semakin terpacu menjadi lebih baik. “Saya menekuni sesuatu karena saya memang mencintai bidang tersebut. Saya suka menulis, saya suka membaca, dan saya tertarik dengan dunia startup. Tidak menutup kemungkinan saya ingin mencoba hal-hal yang baru dan bukan bidang saya. Namun, biasanya hanya sekedar ingin tahu dan ingin mencoba saja,” ungkapnya ke Bernas.

Diceritakanya titik balik kehidupannya, ketika lulus SMA tahun 2013, waktu itu, ia mengidam-idamkan ingin masuk di sebuah universitas negeri terbaik di Jogja. Namun, sayangnya, waktu itu bisnis orangtuanya mengalami kebangkrutan. Ia tetap mendaftar saat itu dan ternyata diterima di universitas negeri favorit, tapi universitas negeri di Surabaya. Tentu, ia sangat senang. Tapi, akhirnya ia memutuskan untuk tidak jadi masuk ke universitas tersebut karena melihat biaya masuk yang begitu tinggi, belum lagi biaya per semester yang juga tinggi. “Saya juga berpikir bahwa saya tidak akan bisa bekerja jika berkuliah di sana. Saya tidak ingin merepotkan orang tua saya yang saat itu sedang susah dan berusaha bangkit dari kegagalan bisnisnya. Saya juga masih memiliki kakak yang saat itu masih berkuliah di univesitas negeri di Jogja, kemudian adik yang mau memasuki PAUD. Saya pun sadar bahwa kedua saudara saya masih membutuhkan banyak biaya, terlebih adik saya yang menderita down syndrome,” tuturnya.

Akhirnya, ia memutuskan untuk pindah ke Surabaya, kota kelahirannya, di mana masih memiliki banyak saudara di sana. Awalnya, ia ingin langsung berjuang di ibu kota, tapi orang tua tidak merestui jika belum memiliki ijazah S1. “Saya tinggal seorang diri di Surabaya. Selama setahun, saya bekerja di media, startup yang bergerak di bidang digital marketing, e-commerce yang bergerak di bidang IT, dan beberapa pekerjaan lepas di bidang kepenulisan. Saya merasakan bagaimana tulisan saya tidak dibayar oleh klien, tulisan dibayar sangat murah, tulisan dibayar lumayan, hingga tulisan dibayar mahal. Selama di Surabaya, saya membiayai hidup saya sendiri. Saya tidak meminta orang tua untuk mengirimkan uang kepada saya. Pikir saya, walau saya tidak bisa memberikan banyak uang kepada orang tua saya, setidaknya saya tidak merepotkan mereka lagi,” jelasnya.

Akhirnya, uangnya pun terkumpul untuk melanjutkan kuliah. Saat itu, ia memang masih berharap bisa berkuliah di universitas negeri favorit. Namun, akhirnya pikirannya berubah. “Saya pikir tidak penting saya berkuliah di mana, yang terpenting ialah ilmu yang saya serap dan juga pengalaman-pengalaman saya. Saya juga tidak akan memilih jurusan kuliah yang bukan passion saya. Pikir saya lebih baik tidak berkuliah, daripada harus berkuliah di jurusan yang saya tidak minati. Saya pun memilih universitas swasta yang jadwal kuliahnya bisa disesuaikan dengan pekerjaan saya. Saat ini kuliah saya lancar, pekerjaan saya lancar, dan bisnis saya juga lancar dijalankan,” terangnya.

Untuk pengalaman unik di pekerjaan, ia menyebut tentang susahnya memulai pekerjaan. ”Saya merasakan bagaimana sulitnya memulai sesuatu di pekerjaan, pengalaman menulis tidak dibayar, dibohongi klien, diremehkan olah partner bisnis dan teman, bos yang galak, bos yang pasif, hingga rekan kerja yang tidak bersahabat. Yang paling unik, saat saya menunda membayar uang SPP kuliah karena uangnya saya gunakan untuk modal bisnis. Saya juga sempat kekurangan uang bulanan, dan akhirnya harus bekerja ekstra dari pagi sampai malam, karena uangnya saya pakai semua untuk modal bisnis saya yang berkonsep sociopreneur, dimana keuntungannya tidak seberapa karena bisnis tersebut mengusung konsep sosial,” bebernya.

Membagi waktu untuk semua kegiatan, menentukan skala prioritas, hingga terhalangnya realisasi ide-ide karena masalah modal menjadi permasalahan yang paling sering dihadapi dalam pekerjaannya. “Untuk masalah pembagian waktu dan menentukan skala prioritas, biasanya saya akan berpikir keras, mana hal-hal yang memang penting dan harus didulukan. Peluang banyak datang, namun saya harus tetap memilih yang terbaik untuk saya. Tentu saya tidak akan bisa meraih semua karena terhalangnya waktu dan tenaga sehingga harus benar-benar berpikir untuk memilih yang terbaik dan merelakan yang tidak bisa saya raih. Biasanya, jika sudah bingung, saya akan berkonsultasi dengan keluarga, pacar, atau teman terdekat untuk membantu mencari solusi. Untuk masalah terhalangnya ide-ide, biasanya saya mencari solusi dengan cara mencari investor, sponsor, hingga berkolaborasi dengan partner,” paparnya.

Diungkapkannya, ia merasa bahwa menulis dan berbisnis merupakan sebuah kegiatan yang bermanfaat bagi banyak orang. Dengan menulis, banyak orang menjadi tahu akan sesuatu, atau bahkan mereka bisa termotivasi juga. Kemudian dengan berbisnis, kita juga bisa menjadi solusi atas permasalahan yang ada. Orang butuh sesuatu, kita sediakan. Ada sebuah masalah, bisa teratasi dengan adanya layanan dalam sebuah startup bisnis tersebut. Untuk tantangan pekerjaan ke depan, ia menyebut tentu sangat banyak, mulai dari menyelesaikan kuliah, membuat bisnis semakin berkembang, dan tidak berhenti di situ saja hingga usaha untuk menerbitkan buku-buku. “Selama ini, saya terhalang waktu untuk menerbitkan buku karena masih banyaknya kegiatan. Hal ini tentu menjadi tantangan saya untuk menyelesaikan buku-buku saya tersebut. Menyikapi hal ini, saya harus bisa membagi waktu sebaik mungkin dan bekerja secara cerdas,” bebernya.

Penulis ini membocorkan inspirasi dan sarannya kepada orang lain yang membaca kisahnya ini. “Inspirasi yang ingin saya tawarkan ialah ternyata tidak ada hal yang mustahil di dunia ini jika kita memang percaya akan hal tersebut. Saya percaya bahwa semua impian bisa tercapai asal kita memang ‘berusaha keras’ dan yakin. Untuk saran, harus bisa mencari peluang, pintar memanfaatkan peluang, berani keluar dari zona nyaman, banyak-banyak berelasi, jangan takut mencoba, coba berkali-kali sampai bisa, jangan terlalu sensitif; dalam artian harus bisa bersikap cuek kalau ada hal-hal yang bikin down, pantang menyerah, dan banyak-banyak bersyukur,”ucapnya.

Untuk pencapaian prestasi, ia pernah meraih Juara I Writing Competition yang diselenggarakan  ASUS pada tahun 2016 kemarin. Kemudian, terpilih menjadi penulis terbaik di salah satu platform freelancer di Indonesia. Beberapa penghargaan lainnya ada di bidang fotografi. “Saya juga sudah dipercaya menjadi narasumber atau speaker, baik untuk bidang kepenulisan maupun startup, lebih dari 10 kali dalam setahun ini,” imbuhnya.

Penyuka hobi menonton film ini membocorkan rencana dalam waktu dekat ini dan impiannya ke depan. “Project terdekat, menerbitkan buku, mengembangkan bisnis sosial saya yang bernama Jobhun Surabaya dan mengembangkan bisnis digital marketing saya yang bernama Passion Project Lab. Saya akan menerbitkan dua buku, yaitu buku mengenai kepenulisan sekaligus motivasi, kemudian buku mengenai pengalaman saya saat bersekolah di salah satu sekolah homogen yang ada di Yogyakarta. Untuk impian terbesar ke depannya, bisnis saya semakin berkembang, karya-karya saya bisa memotivasi orang lain dan memberikan banyak manfaat untuk orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung, bisa menjadi pendidik untuk membagikan ilmu-ilmu yang saya miliki, dan tentunya membahagiakan keluarga saya karena semua pencapaian saya,” pungkasnya.

Bisa dibaca di sini 

Share it!

2 Replies to “Kisah Hidup Saya Dimuat di Koran Bernas”

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial